pdmgunungkidul.org — Ibadah haji  penuh dengan simbol-simbol yang mempunyai makna filosofis bagi perjalanan hidup manusia. Maka, haji mabrur adalah yang mampu menterjemahkan simbol-simbol filosofis tersebut dalam hidup dan kehidupan.

WUKUF 

Wukuf adalah puncak dari ibadah haji, sehingga Nabi SAW bersabda : “al-hajju al-Arafah”(haji ialah Arafah). Maksudnya orang yang tidak wukuf di Arafah maka hajinya tidak sah. Di padang yang luas ini jamaah haji hendaklah menemukan ma’rifah pengetahuan sejati tentang jati dirinya. Dan di sana pula ia menyadari tentang langkah-langkahnya selama ini.

Dengan mendekat (taqarrub) kepada Allah, maka manusia akan mengenal Allah. Dan dengan mengenal Allah, manuasia akan mengenal dirinya sendiri. Ketika lisannya mengucapkan takbir “Allahu Akbar”, ia akan melihat betapa Agungnya Allah, dan ia akan mendapatkan jati dirinya sebagai manusia yang kecil dan lemah di tengah jagad raya ini. Ketika lisannya mengucap tasbih “Subhanallah”, ia akan mendapatkan betapa Maha Sucinya Allah dengan segala macam sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan ia mengenal jati dirinya sebagai manusia yang banyak  kekurangan dan kesalahan. Kesadaran-kesadaran inilah yang akan mengantarkannya menuju Arafah untuk menjadi arif (sadar) dan mengetahui.

Sifat arif inilah yang mesti diperoleh seseorang dari Arafah. Apabila sifat arif ini telah menghias diri seseorang, maka kita akan menemukan orang itu selalu gembira, banyak senyum karena hatinya telah gembira sejak ia mengenalNya. Dimana-mana ia hanya melihat yang Maha Besar, yang Maha Suci, yang Maha Sempurna itu hanyalah Allah. Semua makhluk di matanya sama saja. Ia tidak akan mengintip-intip kelemahan atau mencari-cari kesalahan orang. Ia selalu berprasangka baik kepada siapapun, karena jiwanya telah mendapat bias dari rahman dan rahim-Nya.

Saat wukuf adalah saat musyahadah (penyaksian) yang meliputi kepercayaan yang sempurna dan kehangatan cinta menjadikannya lebur dan menyatu, sehingga tiada yang dapat disaksikannya kecuali Allah yang dicintainya. Saat wukuf adalh saat ketika manusia mengunjungi Allah, maka setelah itu hendaklah ia selalu mengundang Allah agar mengunjunginya. Pintu hatinya senantiasa dibuka dan dipersiapkan untuk menerima kunjungan-Nya.

MELONTAR JUMRAH

Dari Arafah, para jamaah haji ke Mudzalifah untuk mengumpulkan senjata dalam menghadapi musuh utamanya iatu syaitan. Kemudian melanjutkan perjalanannya ke Mina dan di sanalah mereka melampiaskan kebencian dan kemarahan kepada musuh yang selama ini menjadi penyebab segala macam kegetiran hidup yang dialaminya.

Melontar jumrah sebagai simbolisasi perlawanan dan penolakan kita terhadap setan. Permusuhan sepanjang masa yang harus dipahami oleh manusia mukmin, sebagaimana firman Allah SWT :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. Fathir : 6)

Setan yang senantiasa membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia.

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

Setan yang senantiasa menancapkan dan mengibarkan bendera hasad, kufur, takabur, fitnah dan permusuhan pada hati manusia. Bahkan kita harus lebih waspada lagi terhadap setan yang menjelma dalam wujud manusia yang selalu menjadi pelopor dalam kemungkaran dan penghalang terhadap kebajikan. Sekembali dari tanah suci, apaka ia tetap menyatakan permusuhan terhadap setan ? Ataukah malah makinakrab dan bersahabat dengan setan ?.

Makkah, 17 Dzulhijjah 1435  H

Penulis:
H. Untung Santoso (KBIH ‘Aisyiyah  DIY)

 

 

LEAVE A REPLY