Edisi: Menuju Hakikat Haji

pdmgunungkidul.org — Ibadah haji sesungguhnya lebih merupakan perjalanan rohani dari pada perjalanan jasmani, karena tujuan hakiki perjalanan haji bukanlah semata-mata Makkah, Arafah, Mudzalifah, Mina ataupun Madinah. Bukan pula semata-mata thawaf, sa’i, wukuf atau melontar jumrah. Tetapi, tujuan sesungguhnya adalah Allah SWT dengan seluruh kecintaan dan keridhaan-Nya.

Ada yang memaknai perjalanan haji ini sebagai gladi bersih untuk kembali kepada-Nya. Haji adalah gladi bersih untuk “mati”, karena kita meninggalkan tanah air, keluarga, tetangga, harta dan seluruh urusan duniawi dengan niat yang satu ingin menjumpai Allah Ta’ala. Kita ingin bersimpuh di rumah-Nya yang suci. Kita ingin membasahi pipi kita dengan tangis penyesalan dan permohonan ampunan sari-Nya. Karena itu menyiapkan diri untuk berhaji sama dengan menyiapkan diri untuk mati.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ

“… berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal itu ialah taqwa. Bertaqwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.”  (Q.S.Al Baqarah : 197).

Ibadah haji yang  praktek ritualnya berkaitan dengan peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim a.s. dengan keluarganya, pada hakekatnya sesuatu penegasan tentang keyakinan yang intinya adalah :

  1. Pengakuan akan keesaan Tuhan serta penolakan terhadap segala macam bentuk kemusyrikan.
  2. Keyakinan tentang neraca keadilan Tuhan dalam kehidupan ini yang puncaknya akan diperoleh pada hari akhir kelak.
  3. Keyakinan tentang kesamaan manusia dan prinsip-prinsip kemanusiaan yang bersifat universal.

Kemabruran haji dapat dilihat dari bekasnya simbol-simbol yang indah tersebut dalam kehidupan sehari-hari.  Apakah sekembali dari Tanah Suci ia telah mampu melepaskan kesombongan dan egoisme ?. Masih adakah keangkuhan di dalam jiwanya ?. Masih terasa adanya perbedaan derajad kemanusiaan ?, masih ingin menang sendiri dan menindas orang lain ?.

Kemabruran haji haji harus terus dipertahankan dengan terus melakukan upaya terjadinya perubahan dan peningkatan dalam kesadaran beragamanya, yang meliputi sikap istiqomah dalam beragama, peningkatan kualitas ibadah, peningkatan kualitas akhlak dan komitmennya terhadap perjuangan Islam.

Ketika Rasulullah SAW menyatakan bahwa haji mabrur itu tidak ada balasannya kecuali sorga, para sahabat bertanya :

يَا رَسُولَ اللهِ مَابِرُّالحَجِّ ؟

“Wahai Rasulullah, apakah Haji yang baik itu ?”.

Rasulullah SAW menjawab :

اِطْعَامُ الطَّعَامِ وَاِفْشَاءُ السَّلاَمٍ  (ح.ر. أحمد)

“Memberi makan dan menyebarkan salam” (H.R.Ahmad)

 

Dalam riwayat lain :

إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلاَمِ

“Memberi makan dan menjaga ucapan”

Dari jawaban Rasulullah SAW tersebut dapat diketahui bahwa tanda-tanda dari haji mabrur itu antara lain tercermin dari amal perbuatannya.

–   Memberi makan, yang bermakna senantiasa menolong orang lain, mempertajam kepekaan sosialnya dan selalu berupaya untuk memberikan manfaat kepada sesama. Bukankah keimanan sesorang juga terindikasi dari adanya kasih sayang kepada orang lain ?

لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لاَِخِهِ مَايُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman seseorang sehingga ia mencintai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri”.  (H.R.Bukhari dan Muslim).

Bahkan seseorang yang tidak mempunyai kepekaan sosial terhadap nasib anak yatim dan orang miskin dianggap orang yang mendustakan agama.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (Q.S. Al Maa’uun : 1-3)

 –   Menyebarkan Salam, yang bermakna keselamatan, kesejahteraan, kedamaian dan kemaslahatan. Salam selalu terpancar melalui ucapannya, senyumannya, raut wajahnya, gerak tangannya, langkah kakinya dan bahkan setiap tarikan nafasnya.

حَدِيثُ عبْدِاللهِ بْنِ عَمْرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّالْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ ؟ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin al-Ash  r.a. katanya : Seseorang telah bertanya kepada Rasulullah saw; Apakah sifat orang Islam yang paling baik ? Rasulullah saw bersabda : Seseorang yang menyelamatkan orang-orang Islam dengan lidah dan tangannya”  (H.R. Bukhari dan Muslim

Mahbas Jin – Makkah, 19 Dzulhijjsh 1435 H

Penulis:
H. Untung Santoso (KBIH Aisyiyah DIY)

 

LEAVE A REPLY